<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://smail10.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://smail10.wordpress.com</link>
	<description>HIDUP SEDERHANA, BERTEKNOLOGI TINGGI</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 May 2008 19:08:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='smail10.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title></title>
		<link>http://smail10.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://smail10.wordpress.com/osd.xml" title="" />
	<atom:link rel='hub' href='http://smail10.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>SKRIPSI yuk</title>
		<link>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/skripsi-yuk/</link>
		<comments>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/skripsi-yuk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 19:08:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismail Mohammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Forum Skripsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smail10.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang bilang menulis skripsi itu susah. carijudulnya saja perlu ke sana ke mari. Apalagi waktu mengerjakannya. Pusingg… Nah, biar lancar, kenapa tidak membaca tips-tips menulis skripsi yang dibuat oleh mereka yang berbaik hati ini: 1. Tip-tip menulis SKRIPSI Tips ini ditulis Wiryanto Dewobroto, seorang dosen di Universitas Pelita Harapan. Banyak tanggapan dan mendiskusikan tipsnya. Bahkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=smail10.wordpress.com&amp;blog=3626155&amp;post=28&amp;subd=smail10&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang bilang menulis skripsi itu susah. carijudulnya saja perlu ke sana ke mari. Apalagi waktu mengerjakannya. Pusingg…</p>
<p>Nah, biar lancar, kenapa tidak membaca tips-tips menulis skripsi yang dibuat oleh mereka yang berbaik hati ini:</p>
<p><a title="Tip-tip menulis skripsi" href="http://wiryanto.wordpress.com/2007/02/24/tip-tip-menulis-skripsi/" target="_blank">1. Tip-tip menulis SKRIPSI</a><br />
Tips ini ditulis Wiryanto Dewobroto, seorang dosen di Universitas Pelita Harapan. Banyak tanggapan dan mendiskusikan tipsnya. Bahkan tak sedikit yang “menculik” tips ini di blog lain.</p>
<p><a title="Tips menulis skripsi" href="http://skripsi-tugasakhir.blogspot.com/2007/07/tips-untuk-mengerjakan-skripsi-teknik.html" target="_blank">2. Tips menuslis skripsi untuk mahasiswa Teknik Informatika</a><br />
Tips ini ditulis oleh Joni Gozali. Ada 11 tips jitu yang dituliskan di blognya. Simak saja satu per satu.</p>
<p><a title="Tips berburu topik skripsi" href="http://budihartono.wordpress.com/2007/11/30/tips-berburu-topik-skripsi-s1-part-1/" target="_blank">3. Tips berburu topik skripsi S1</a><br />
Tips ini ditulis Budi Hartono, seorang dosen di jurusan teknik mesin dan industri UGM. Tipsnya dibagi ke dalam dua sekuel, kayak film gitu loh!</p>
<p><a title="Cara cepat menyusun skripsi" href="http://nofieiman.com/2006/09/cara-cepat-menyusun-skripsi/" target="_blank">4. Cara Cepat Menyusun Skripsi</a><br />
Tips ditulis oleh Nofie Iman di “official” blognya. Dalam tipsnya ini dia antara lain menjelaskan tentang miskonsepsi terhadap skripsi selama ini.</p>
<p><a title="Mengatasikesulitan menulis skripsi" href="http://alkohol7.wordpress.com/2008/04/17/mengatasi-kesulitan-menulis-skripsi/" target="_blank">5.Mengatasi Kesulitan Menulis Skripsi</a><br />
Konon tips ini ditulis oleh seseorang bernama Zainun Mu’tadin, SPsi., MSi. Sayangnya, di blog/website yang “menculik” tips ini tidak ada link ke penulisnya. <img class="wp-smiley" src="http://ngampus.com/judulskripsi/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif" alt="(" /></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/smail10.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/smail10.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/smail10.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/smail10.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/smail10.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/smail10.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/smail10.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/smail10.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/smail10.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/smail10.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/smail10.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/smail10.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/smail10.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/smail10.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/smail10.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/smail10.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=smail10.wordpress.com&amp;blog=3626155&amp;post=28&amp;subd=smail10&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/skripsi-yuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eef499e83d6f123cb7942a6720b16081?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">smail10</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ngampus.com/judulskripsi/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif" medium="image">
			<media:title type="html">(</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TAFSIR ILIR-ILIR</title>
		<link>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/tafsir-ilir-ilir/</link>
		<comments>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/tafsir-ilir-ilir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 18:53:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismail Mohammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Forum diskusi Cak Emha Ainun Najib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smail10.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Bukan sekedar lagu dolanan .. tapi lagu penuh makna mendalam. Tidak untuk dinikmati syair dan nadanya semata, tapi lebih penting adalah untuk direnungkan dan dicontoh penyeruannya. Lir ilir ini katanya ciptaan Sunan Kalijogo, ada juga yang mengatakan Sunan Giri, ada juga yang mengatakan Sunan Ampel. Wallahu a’lam yang penting adalah ciptaan salah satu dari mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=smail10.wordpress.com&amp;blog=3626155&amp;post=27&amp;subd=smail10&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Bukan sekedar lagu dolanan .. tapi lagu penuh makna mendalam. Tidak untuk dinikmati syair dan nadanya semata, tapi lebih penting adalah untuk direnungkan dan dicontoh penyeruannya.<br />
Lir ilir ini katanya ciptaan Sunan Kalijogo, ada juga yang mengatakan Sunan Giri, ada juga yang mengatakan Sunan Ampel. Wallahu a’lam yang penting adalah ciptaan salah satu dari mereka yang insyaAllah mencerminkan seruan para wali itu semua.berikut dibawah ini tentang Lir Ilir</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><span style="color:#3366ff;font-size:130%;">Lir ilir, lir ilir tandure wis sumilir   (Lir ilir, lir ilir tanamannya sudah mulai bersemi)</span><span style="color:#3366ff;"> </span> Iir-ilir : Sayup-sayup bangun (dari tidur), tanaman : agama Islam.</li>
<li><span style="font-size:130%;"><span style="color:#3366ff;">Tak ijo royo &#8211; royo (Hijau Royo royo).</span></span>Agama Islam tumbuh subur di Tanah Jawa. Yakni hijau sebagaimana simbol umum agama Islam. Dalam politik indonesia pun dulu ada istilah “penghijauan di MPR”, dimana MPR yang dulu (sebelum 1989) banyak didominasi non muslim mulai terisi oleh praktisi2 dari kelompok Islam. Ada juga penafsiran yang mengatakan bahwa pengantin baru maksudnya adalah raja2 jawa yang baru masuk Islam.</li>
<li><span style="font-size:130%;"><span style="color:#3366ff;">Tak sengguh temanten anyar (demikian menghijau bagaikan pengantin baru)</span></span><span style="font-size:130%;"></span>sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level mula, seperti penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahanny</li>
<li><span style="font-size:130%;">Cah angon &#8211; cah angon penekno blimbing kuwi (Anak-anak penggembala, panjatkan pohon blimbing itu )</span><span style="color:#000000;">. Kenapa kok cah angon ? Hadits Rasul “Al-Imaamu Ro’in” (Imam adalah Pemimpin/Penggembala). Ro’in dalam bahasa arab artinya secara bahasa penggembala dan secara urf (adat arab) juga untuk menyebut sebagai pemimpin.Kenapa Belimbing : Inget : belimbing itu warnanya ijo (ciri khas Islam) dan memiliki sisi 5. Jadi, belimbing adalah isyarat agama Islam itu sendiri, yang tercermin dari 5 sisi buah belimbing yang menggambarkan Rukun Islam.Kenapa penekno (ambilkan) : Inilah seruan tholabun nushroh para wali kepada para penguasa di Jawa, agar mereka bersedia mengambil Islam itu agar masyarakat bisa mengikuti langkahnya dan dengan itu aturan Islam dapat diterapkan ke masyarakat. Tidak mungkin Islam terterapkan kaffah tanpa ada kemauan penguasa “mengambil” Islam sebagai agama dan sistemnya. Para penafsir lagu lir-ilir kebanyakan tidak sasmito terhadap penggunaan kata2 penekno belimbing ini .. Kalau cuman sekedar belimbing sih biasanya anak kecil juga bisa ambil sendiri, tapi ini menggunakan kata “penekno” yang artinya adalah ambilkan buah itu untuk saya, kami dan mereka semua. Dan juga bukan peneken (panjat dan ambil untuk dirimu sendiri). Jelas ini artinya adalah seruan para wali agar raja bersedia mengimplementasikan Islam untuk masyarakat umum.</span></li>
<li><span style="font-size:130%;">Lunyu &#8211; lunyu peneen kanggo mbasuh dododiro (Biar licin tetap panjatkan untuk mencuci pakaian-mu).</span><span style="color:#000000;">dodod : sejenis pakaian jawa (dNux : saya juga tidak tahu sperti apa, katanya sih seperti kemben). walaupun berat ujiannya, walaupun banyak rintangannya karena masuk agama Islam itu berkonsukuensi luas baik secara keluarga, sosial dan politik, maka tetap anutlah Islam untuk membersihkan aqidahmu dan menyucikan dirimu dari dosa dosamu. Demikian juga pasti sangat berat rintangan untuk melaksanakan syariat Islam itu ditengah masyarakat, karena pasti akan berhadapan dengan agama, adat istiadat serta sistem yang telah terbangun dimasyarakat<span style="font-size:130%;">.</span></span></li>
<li><span style="font-size:130%;">Dododiro &#8211; dododiro kumitir bedah ing pinggir.</span><span style="color:#000000;"> Pakainmu itu tertiup2 angin dan sobek di pinggir pinggirnya.</span> <span style="color:#000000;">kumitir : bayangkan kain yang dijemuran dan tertiup2 angin lalu terlihat pinggir kain itu sobek2. Yang dimaksud disini adalah ketika para raja itu sudah masuk Islam, maka masih ada hal hal yang belum Islam kaffah, masih ada cacat2 di aqidah-nya sebab masih terpengaruh oleh hindu jawa</span> <span style="color:#000000;">Bedah ing pinggir : barangkali yang dimaksud pinggir sini adalah masyarakat bawah (pinggiran), dimana pada mereka masih kurang memahami dan kurang melaksanakan Islam sebab banyak masyarakat awam belum tersentuh dakwah atau belum komitmen di Islam.</span></li>
<li><span style="font-size:130%;">Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore (Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore ).</span><span style="color:#000000;">Betulkanlah penyimpangan2 itu baik pada dirimu atau pada masyarakatmu untuk persiapan kematianmu.&gt;&gt; sebo : menghadap = sowan. Mengko sore : nanti sore (waktu ajal). Usia senja : usia tua mendekati masa akhir.&gt;&gt; Pesan dari para wali bahwa kamu itu wahai raja .. pasti akan mati dan akan menemui Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan diri, keluarga dan masyarakat yang kamu pimpin. Maka benahilah dan sempurnakanlah keislamanmu dan keislaman masyarakatmu agar kamu selamat di Hari Pertanggung Jawaban (yaumul Hisab)</span></li>
<li><span style="font-size:130%;">Mumpung pandang rembulane (Selagi terang (sinar) bulan-nya).</span><span style="color:#000000;">&gt;&gt; Para wali mengintatkan agar para raja melaksanakan hal itu mumpung masih terbuka pintu hidayah menerima Islam dan masih banyak ulama2 yang bisa mendampingi beliau untuk memberikan nasehat dan arahan dalam menerima dan menerapkan Islam.</span></li>
<li><span style="font-size:130%;">Mumpung jembar kalangane (Mumpung luas kesempatannya).</span><span style="color:#000000;"> Mumpung si Raja masih menduduki jabatan sebagai penguasa. Nanti perkaranya atau kesempatan melaksanakan ini akan hilang bila raja tersebut sudah tidak menjadi penguasa.&gt;&gt; Kesempatan apa? usia atau pangkat/kedudukan ? Kalau yang dimaksud kesempatan adalah usia, maka ini kurang cocok. Bagaimanapun juga para wali juga tahu bahwa usia itu tidak bisa ditebak. Pangkat/kedudukan lebih masuk akal sebab masih bisa diduga kapan lengsernya .&gt;&gt; Bagi saya kalangan bisa juga berarti pendukung sehingga maknanya juga bisa : mumpung selagi banyak pendukungnya.&gt;&gt; bagian ini sangat menjelaskan bahwa lagu ini adalah tholabun nusrhoh para wali kepada raja raja agar raja memanfaatkan kesempatannya (sebagai raja) untuk disamping masuk Islam juga terlibat aktif dalam penyebaran dan pelaksanaan syariat Islam di wilayahnya (tanah Jawa).</span></li>
<li><span style="font-size:130%;">Sun surako surak hiyo (Mari bersorak-sorak ayo…)</span><span style="color:#000000;">&gt;&gt; Sambutlah seruan ini dengan gembira “Ayo kita terapkan syariat Islam” …. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)</span></li>
</ol>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/smail10.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/smail10.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/smail10.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/smail10.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/smail10.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/smail10.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/smail10.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/smail10.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/smail10.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/smail10.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/smail10.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/smail10.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/smail10.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/smail10.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/smail10.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/smail10.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=smail10.wordpress.com&amp;blog=3626155&amp;post=27&amp;subd=smail10&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/tafsir-ilir-ilir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eef499e83d6f123cb7942a6720b16081?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">smail10</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gusti Allah tidak &#8220;ndeso&#8221; (kampungan)</title>
		<link>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/gusti-allah-tidak-ndeso-kampungan/</link>
		<comments>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/gusti-allah-tidak-ndeso-kampungan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 18:52:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismail Mohammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Forum diskusi Cak Emha Ainun Najib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smail10.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[by Emha Ainun Nadjib rasanya menyenangkan dan memperkaya jiwa apabila kita coba untuk membaca artikel dan mengikuti diskusi &#8220;nyeleneh&#8221; Nya cak emha. berikut saya kutip dari berbagai sumber tentang judul diatas Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun : &#8220;Cak Nun,&#8221; kata sang penanya, &#8220;misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=smail10.wordpress.com&amp;blog=3626155&amp;post=26&amp;subd=smail10&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 class="post-title" style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"> by Emha Ainun Nadjib</span></h3>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;">rasanya menyenangkan dan memperkaya jiwa apabila kita coba untuk membaca artikel dan mengikuti diskusi &#8220;nyeleneh&#8221; Nya cak emha. berikut saya kutip dari berbagai sumber tentang judul diatas</span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-weight:bold;">Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun </span>:</span></p>
<p><span style="font-size:small;">&#8220;Cak Nun,&#8221; kata sang penanya, &#8220;misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?&#8221;</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Cak Nun menjawab lantang, &#8220;Ya nolong orang kecelakaan.&#8221; &#8220;Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?&#8221; kejar si penanya. &#8220;Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu,&#8221; jawab Cak Nun.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">&#8220;Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, &#8221; katanya lagi. &#8220;Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.&#8221;</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Kata Tuhan: </span></p>
<p><span style="font-size:small;">Kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Seraya bertanya balik, Emha berujar, &#8220;Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. </span></p>
<p><span style="font-size:small;">Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan. </span></p>
<p><span style="font-size:small;">Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?&#8221;</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. </span></p>
<p><span style="font-size:small;">Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak- injaknya.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. </span></p>
<p><span style="font-size:small;">Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh&#8217;afin (kaum tertindas).</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Ekstrinsik Vs Intrinsik</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, &#8220;Ia di neraka.&#8221; </span></p>
<p><span style="font-size:small;">Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. </span></p>
<p><span style="font-size:small;">Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh kedalam .</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/smail10.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/smail10.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/smail10.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/smail10.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/smail10.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/smail10.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/smail10.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/smail10.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/smail10.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/smail10.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/smail10.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/smail10.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/smail10.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/smail10.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/smail10.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/smail10.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=smail10.wordpress.com&amp;blog=3626155&amp;post=26&amp;subd=smail10&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/gusti-allah-tidak-ndeso-kampungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eef499e83d6f123cb7942a6720b16081?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">smail10</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mbok Nggak Usah Ada Neraka</title>
		<link>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/mbok-nggak-usah-ada-neraka/</link>
		<comments>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/mbok-nggak-usah-ada-neraka/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 18:51:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismail Mohammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Forum diskusi Cak Emha Ainun Najib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smail10.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Setiap calon santri di padepokan Sang Sunan, ditest dulu bagaimana ia membaca kalimat syahadat. Dan Saridin memiliki lafal dan caranya sendiri dalam bersyahadat. Suatu cara yang Gus Dur saja pasti tidak berani melakukannya, minimal karena badan Gus Dur terlalu subur &#8211; sementara Saridin adalah lelaki yang atletis dan seorang pendekar silat yang mumpuni. Tapi sebelum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=smail10.wordpress.com&amp;blog=3626155&amp;post=25&amp;subd=smail10&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">Setiap calon santri di padepokan Sang Sunan, ditest dulu bagaimana ia membaca kalimat syahadat. Dan Saridin memiliki lafal dan caranya sendiri dalam bersyahadat. Suatu cara yang Gus Dur saja pasti tidak berani melakukannya, minimal karena badan Gus Dur terlalu subur &#8211; sementara Saridin adalah lelaki yang atletis dan seorang pendekar silat yang mumpuni. </span><span style="font-size:130%;">Tapi sebelum hal itu diceritakan, karena Saridin khawatir Anda kaget lantas darah tinggi Anda kambuh, maka harus diterangkan dulu beberapa hal mendasar yang menyangkut hubungan antara Tuhan dengan humor. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">*</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">Sejak mulai akil balig, Saridin secara naluriah maupun perlahan-lahan secara rasional memutuskan untuk melihat dan memperlakukan kehidupan ini sebagai sesuatu yang sangat bersungguh-sungguh &#8211; namun ia menjalanninya dengan urat saraf yang santai dan dengan kesiapan humor yang setinggi-tingginya. Soalnya, diam-diam, jauh di dalam lubuk hatinya, Saridin yakin bahwa Tuhan sendiri sesungguhnya adalah Maha Dzat yang penuh humor …</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">Memang belum tentu benar, belum tentu baik dan arif, untuk menyebut bahwa Tuhan itu Maha (Peng- atau Pe-) Humor. Di antara 99 asma dan watakNya, tidak terdapat nama Maha Humor. Tapi kalau misalnya di satu pihak Tuhan itu Maha Penyayang dan di lain pihak Ia Maha Penyiksa, atau di satu sisi Ia Maha Pengasih dan di sisi lain Ia Maha Penghukum, atau di satu dimensi Ia Maha Penabur Rejeki tapi sekaligus pada dimensi lain Ia Maha Penahan Rejeki &#8211; terpaksa kadang-kadang kita menganggap itu suatu jenis humor. Paling tidak supaya kepala kita tidak pusing.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">Ada sih penjelasan kontekstualnya. Tuhan mengasihi atau menyiksa hamba-hambaNya menurut konteks dan posisi nilai yang memang relevan untuk itu. Tuhan mungkin mengasihi siapa saja meskipun mereka mbalelo kepadaNya:<br />
Tuhan tetap memelihara napas para maling, Tuhan tidak menyembunyikan matahari dari para perampok, Tuhan tidak menghapus ilmu dari otak para koruptor.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">Tapi tidak mungkin Tuhan menyiksa orang yang patuh kepadaNya. Tuhan tidak mungkin menghukum orang yang tak punya kesalahan kepadaNya. Kalau Tuhan menahan rejeki orang yang taat kepadaNya, maka penahanan rejeki itu mungkin merupakan suatu jenis rejeki tertentu yang merupakan metoda agar orang tersebut menghayatinya dan memperoleh nilai yang lebih tinggi. Atau kalau seseorang yang baik kepada Tuhan tapi lantas diberi kemiskinan atau penderitaan, tentu yang terjadi adalah satu di antara tiga kemungkinan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">Pertama, itu teguran. Alhamdulillah dong kalau Tuhan berkenan mengkritik kita. Itu artinya kita punya kans untuk menjadi lebih baik. Kedua, itu ujian. Juga alhamdulillah, karena hanya orang yang disediakan kenaikan pangkat saja yang boleh ikut ujian. Dan ketiga, itu hukuman. Ini lebih alhamdulillah lagi, karena manusia selalu membutuhkan pembersihan diri, memerlukan proses pensucian dan kelahiran kembali.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">*</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">Jadi menurut Saridin jelas, bahwa bagi mata pandang manusia, ide-ide penciptaan yang Ia paparkan pada alam semesta dan kehidupan, banyak sekali mengandung hal-hal yang kita rasakan sebagai ‘humor’.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">Bukan hanya ketika kita melihat perilaku monyet, umpamanya &#8211; yang membuat Saridin berpikir: “Ah, ini yang bikin tentu Dzat yang maha pencipta humor, atau sekurang-kurangnya pencipta monyet adalah Entertainer Agung bagi jiwa dahaga manusia …”<br />
Soalnya kelakuan monyet ‘kan mirip-mirip Anda …</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">*</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">Juga Anda mengalami sendiri betapa banyaknya hal-hal yang lucu di muka bumi ini, bahkan juga mungkin di luar bumi. Saridin sendiri amat sering tertawa riang atau tertawa kecut kalau melihat atau mengalami kehendak-kehendak Tuhan tertentu. Umpamanya tatkala Adam tinggal di sorga, Tuhan sengaja bikin pohon Khuldi, tapi dilarangnya Adam menyentuh. Tapi pada saat yang sama, Ia ciptakan Iblis untuk menggoda agar Adam melanggar larangan itu &#8211; dan akhirnya terjadi benar.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">Sehingga beliau beserta istri terlempar ke muka bumi, dan kita semua terpaksa menjumpai diri kita juga tidak lagi di sorga, melainkan di bumi. Itupun bumi yang sudah dikapling-kapling oleh konsep adanya negara. Oleh adanya organisasi pemerintahan yang kerjanya memerintah dan melarang seperti Tuhan. Kalau Tuhan sih memang berhak seratus persen memerintah dan melarang karena memang Ia yang menciptakan kita dan semua alam ini, serta yang menyediakan hamparan rejeki dan menjamin hidup manusia.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">Tapi pemerintah ‘kan nyuruh kita cari makan sendiri-sendiri. Kalau kita kelaparan atau dikubur hutang, kita tidak bisa mengeluh kepada pemerintah. Hubungan kita dengan pemerintah hanya bahwa kita sebuah berada di bawah kekuasaannya tanpa ada jaminan bahwa kalau kita mati kelaparan lantas mereka akan menangisi kita dan menyesali kematian itu. Semakin banyak di antara kita yang mati, secara tidak langsung program KB akan semakin sukses.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">*</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">Soal ini memang tergolong paling lucu di dunia. Kalau di negara sosialis dulu, rakyat dijamin kesejahteraannya meskipun minimal, namun sama rata sama rasa &#8211; dengan catatan tidak boleh mbacot, tidak boleh membantah, alias tidak ada demokrasi. Kalau di negeri kapitalis, setiap orang memiliki hak bicara, hak ngumpul dan berserikat &#8211; tapi dengan syarat harus cari makan sendiri-sendiri, harus mandiri dan berani bersaing, berani jadi gelandangan kalau kalah.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">Lha Anda adalah rakyat yang hidup di negeri yang mengharmonisasikan dua keistimewaan dari negeri sosialis dan negeri kapitalis. Anda tidak usah banyak bicara, tak usah membantah, tak perlu protes-protes, karena toh makan dan kesejahteraan hidup Anda harus Anda jamin sendiri …</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">Departemen Sosial, Polsek, Babinsa, Koramil, Majelis Ulama, ICMI, PCPP, YKPK, PNI-Baru maupun Neo-Masyumi, tidak menjamin bahwa Anda beserta keluarga akan tidak sampai kelaparan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">*</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">Bahkan pada saat-saat kita tidak paham pada takdirnya yang menimpa kita, dan itu mungkin menyedihkan, demi supaya kita tetap survive secara psikologis -seringkali kita anggap saja itu semua adalah Humor dari yang Maha Kuasa.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">Misalnya saja soal Pak Adam di sorga itu. Kalau kita boleh bermanja kepada Tuhan, mbok ya biarkan saja beliau menghuni sorga. Mbok ya Tuhan ndak usah menciptakan Setan, Iblis dan sebangsanya itu. Mbok ya langsung saja manusia yang merupakan hasil ciptaan terbaik ini ditakdirkan saja untuk menghuni sorga, sehingga Tuhan tak usah juga bikin neraka.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">Soalnya gara-gara Iblis menang dan sukses dalam menggoda Adam, lantas didalam perkembangan dunia maupun pembangunankebudayaan nasional &#8211; Setan dan Iblis malah mendapatkan peluang yang besar untuk menjadi idola.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">Dalam praktek-praktek kehidpan politik, dalam mekanisme perekonomian dan dunia bisnis, dalam soal-soal pembebasan tanah, soal kebebasan asasi manusia dan lain sebagainya &#8211; Setan banyak menjadi wacana utama. Para penguasa tertentu dan pemegang modal besar tertentu, banyak memperlakukan Iblis sebagai mitra-kerja, dengan alasan: “Alah, wong Pak Adam saja juga kalah waktu digoda oleh blis kok …”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">*</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:130%;">Itulah sebabnya Saridin, ketika diperintah oleh Sunan Kudus untuk bersyahadat, memutuskan untuk menempuh suatu cara yang membuktikan bahwa ia bukan saja tidak takut melawan Iblis dan Setan &#8211; Saridin bahkan membuktikan bahwa ia tidak takut mati. Saridin membuktikan bahwa Saridin lebih besar dibanding kematian …</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:78%;">diambil dari http://samsira.wordpress.com/2008/03/26/mbok-nggak-usah-ada-neraka/</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/smail10.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/smail10.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/smail10.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/smail10.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/smail10.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/smail10.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/smail10.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/smail10.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/smail10.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/smail10.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/smail10.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/smail10.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/smail10.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/smail10.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/smail10.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/smail10.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=smail10.wordpress.com&amp;blog=3626155&amp;post=25&amp;subd=smail10&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/mbok-nggak-usah-ada-neraka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eef499e83d6f123cb7942a6720b16081?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">smail10</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membaca dan Selimut</title>
		<link>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/membaca-dan-selimut/</link>
		<comments>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/membaca-dan-selimut/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 18:49:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismail Mohammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Forum diskusi Cak Emha Ainun Najib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smail10.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Kiai Sudrun berkata kepada cucunya, seorang sarjana yang tadi siang diwisuda. “Di zaman dahulu kala terdapatlah makhluk yang bernama Kebudayaan Barat. Pada masa itu tak ada barang di muka bumi ini yang dikutuk orang melebihi kebudayaan barat sehingga ia dianggap sedikit saja lebih baik dari anjing kurap. Pada masa itu pula tak ada sesuatu pun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=smail10.wordpress.com&amp;blog=3626155&amp;post=24&amp;subd=smail10&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kiai Sudrun berkata kepada cucunya, seorang sarjana yang tadi siang diwisuda.</p>
<p style="text-align:justify;">“Di zaman dahulu kala terdapatlah makhluk yang bernama Kebudayaan Barat. Pada masa itu tak ada barang di muka bumi ini yang dikutuk orang melebihi kebudayaan barat sehingga ia dianggap sedikit saja lebih baik dari anjing kurap. Pada masa itu pula tak ada sesuatu pun dalam kehidupan yang dipuja orang melebihi kebudayaan barat sehingga terkadang ia melebihi Tuhan.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ini kisah aneh apa lagi?” bertanya sang cucu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kaum Muslim pada waktu itu sedang mencapai puncak semangatnya untuk memperjuangkan agamanya, menemukan identitas dan bentukan kebudayaannya sendiri,” si kakek melanjutkan, “Maka dipandanglah kebudayaan barat itu oleh mereka dengan penuh rasa najis, serta dipakailah barang-barang kebudayaan barat itu dengan penuh rasa sayang dan kebanggan.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Lagi-lagi soal kemunafikan!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tak penting benar soal kemunafikan itu dalam kisah ini,” jawab Kiai Sudrun,<br />
“setidak-tidaknya engkah sudah paham persis masalah itu, dan lagi yang hendak aku ceritakan kepadamu adalah soal lain.”</p>
<p style="text-align:justify;">Sang cucu diam mendengarkan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kaum Muslim pada waktu itu mempertentangkan Islam dengan kebudayaan barat seperti mempertentangkan cahaya dengan kegelapan atau malaikat dengan setan. Padahal sampai batas tertentu, para pelaku kebudayaan barat itu sendirilah yang dengan ketekunan amat tinggi melaksanakan ajaran Islam.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kakek sembrono, ah.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tak ada yang melebihi mereka dalam melaksanakan kewajiban iqra’, meskipun kemudian disusul oleh sebagian bangsa-bangsa tetangganya. Tak ada yang melebihi mereka dalam kesungguhan menggali rahasia ilmu dan mengungkap kemampuan-kemampuan alam. Mereka telah membawa seluruh umat manusia memasuki keajaiban demi keajaiban. Mereka mengantarkan manusia untuk mencapai jarak tertentu dalam waktu satu jam sesudah pada abad sebelumnya mereka memerlukan perjalanan berbulan-bulan lamanya. Mereka mempersembahkan kepada telinga dan mata manusia berita dan pemandangan dari balik dunia yang berlangsung saat itu juga. Mereka telah memberi suluh kepada pengetahuan manusia untuk mengetahui yang lebih besar dari galaksi serta yang sejuta kali lebih lembut dari debu.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Dimuliakan Allahlah mereka,” sahut sang cucu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Benar,” jawab kakeknya, “kalau saja mereka meletakkan hasil iqra’ itu di dalam kerangka bismi rabbika-lladzi khalaq. Seandainya saja mereka mempersembahkan ilmu dan teknologi itu untuk menciptakan tata hidup yang menyembah Allah. Seandainya saja ereka merekayasa kedahsyatan itu tidak untuk penekanan dalam politik, pemerasan dalam ekonomi, sakit jiwa dalam kebudayaan, serta kemudian kebuntuan dan keterpencilan dalam peradaban.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Apa rupanya yang mereka lakukan?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Memelihara peperangan, mendirikan berhala yang tak mereka ketahui sebagai berhala, menumpuk barang-barang yang sesungguhnya tak mereka perlukan, pura-pura menyembah tuhan dan bersenggama dengan binatang.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Anjing kurap!” teriak sang cucu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Memang demikian sebagian dari Kaum Muslim, memaki-maki, tapi kebanyakan dari mereka bergabung menjadi pelaku dari pembangunan yang mengarah kepada kebudayaan yang semacam itu.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Munafik!” sang cucu berteriak lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Menjadi seperti kau inilah sebagian dari Kaum Muslim di masa itu. Dari sekian cakrawala ilmu anugerah Allah mereka mengembangkan satu saja, yakni kemampuan untuk mengutuk dan menghardik. Tetapi kemudian karena tak ada sesuatu pun yang berubah oleh kutukan dan hardikan, maka mereka pun pergi memencilkan diri: melarikan diri ke dalam hutan sunyi, mendirikan kampung-kampung sendiri &#8211; di pelosok belantara atau di dalam relung kejiwaan mereka sendiri. Mereka menjadi bala tentara yang lari terbirit-birit meninggalkan medan untuk menciptakan dunianya sendiri. Mereka ini mungkin kau sebut kerdil, tetapi sesungguhnya itu masih lebih baik dibandingkan kebanyakan orang lain yang selalu berteriak sinis ‘Kalian sok suci!’ atau ‘Kami tak mau munafik!’ sementara yang mereka lakukan sungguh-sungguh adalah kekufuran perilaku dan pilihan. Namun demikian tetaplah Allah Mahabesar dan Mahaadil, karena tetap pula di antara kedua kaum itu dikehendakiNya hamba-hamba yang mencoba merintis perlawanan di tengah medan perang. Mereka menatap ketertinggalan mereka dengan mata jernih. Mereka ber-iqra’, membaca keadaan, menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan kesanggupan mengolah sejarah, sambil diletakkannya semua itu dalam bismi rabbi. Ilmu ditimba dengan kesadaran dan ketakjuban Ilahiah. Teknologi ditaruh sebagai batu-bata kebudayaan yang bersujud kepada Allah.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Maka lahirlah makhluk baru di dalam diri Kaum Muslim,” berkata Kiai Sudrun<br />
selanjutnya, “Gerakan intelektual. Orang dari luar menyebutnya intelektualisme-transendental atau intelektualisme-religius, meskipun Kaum Muslim sendiri menyebutnya gerakan intelektual &#8211; itu saja &#8211; sebab<br />
intelektualitas dan intelektualisme Islam pastilah religius dan transendental.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Dongeng kakek menjadi kering …,” sahut sang cucu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Itu iqra’ namanya. Gerakan iqra’, yang ketiga sesudah yang dilakukan oleh Muhammad dan kemudian para ilmuwan Islam yang kau ketahui menjadi sumber pengembangan kebudayaan barat.”</p>
<p style="text-align:justify;">Sang cucu tak memrotes lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Akan tetapi mereka, Kaum Muslim itu, adalah &#8211; kata Tuhan &#8211; orang-orang yang berselimut. Mudatstsirun. Orang-orang yang hidupnya diselimuti oleh berbagai kekuatan tak bismi rabbi dari luar dan dari dalam diri mereka sendiri. Selimut itu membuat tubuh mereka terbungkus dan tak leluasa, membuat kaki dan tangan mereka sukar bergerak, serta membuat hidung mereka tak bisa bernafas dengan lega.”</p>
<p style="text-align:justify;">Sang cucu tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kepada manusia dalam keadaan terselimut itulah Allah berfirman qum! Berdirilah. Tegaklah. Mandirilah. Lepaskan diri dari ketergantungan dan ketertindihan. Untuk tiba ke tahap mandiri, seseorang harus keluar terlebih dahulu dari selimut. Ia tak akan bisa berdiri sendiri bila terus saja membiarkan diri terbungkus kaki tangannya serta terbungkam mulutnya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Sang cucu tersenyum lebih lebar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Firman berikutnya adalah fa-andzir! Berilah peringatan. Lontarkan kritik, teguran, saran, anjuran. Ciptakan kekuatan untuk mengontrol segala sesuatu yang wajib dikontrol.” &#8211; Sampai di sini Kiai Sudrun tiba-tiba tertawa cekikikan &#8211; “Syarat untuk sanggup memberi peringatan ialah kemampuan untuk mandiri. Syarat untuk mandiri ialah terlebih dahulu keluar dari selimut. Namun pada masa itu, cucuku, betapa banyak nenek moyangmu yang tak memperhatikan syarat ini. Mereka melawan kekuasaan padahal belum bisa berdiri tegak. Mereka mencoba berdiri padahal masih terbungkus dalam selimut … ” &#8211; tertawa Kiai Sudrun makin menjadi-jadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Disusul kemudian oleh suara tertawa cucunya, “Kakek luar biasa!” katanya,<br />
“Kakek memang cerdas luar biasa!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Apa maksudmu?” bertanya Kiai Sudrun di tengah derai tawanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kakek menirukan hampir persis segala yang kuceritakan kepada kakek tadi<br />
malam dari buku-buku kuliahku.”</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:78%;"> source :http://samsira.wordpress.com/2008/03/27/membaca-dan-selimut/</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/smail10.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/smail10.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/smail10.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/smail10.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/smail10.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/smail10.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/smail10.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/smail10.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/smail10.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/smail10.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/smail10.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/smail10.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/smail10.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/smail10.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/smail10.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/smail10.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=smail10.wordpress.com&amp;blog=3626155&amp;post=24&amp;subd=smail10&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/membaca-dan-selimut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eef499e83d6f123cb7942a6720b16081?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">smail10</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jendela Hati Buat Prajurit Sejati</title>
		<link>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/jendela-hati-buat-prajurit-sejati/</link>
		<comments>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/jendela-hati-buat-prajurit-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 18:48:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismail Mohammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Forum diskusi Cak Emha Ainun Najib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smail10.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[oleh Cak Emha Ainun Najib Bukan Jabatan, melainkan Jiwa Menjadi tentara tidak sama dengan menjadi Bupati, Gubernur, Menteri atau Presiden. Tentara itu jiwa, Presiden itu jabatan. Jabatan Presiden akan ditinggalkan dan meninggalkan (dengan paksa) orang yang menyandangnya, sedangkan ketentaraan adalah jiwa yang menyatu dengan manusianya, adalah ruh yang tak bisa dicopot kecuali oleh pengkhianatan dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=smail10.wordpress.com&amp;blog=3626155&amp;post=23&amp;subd=smail10&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="snap_preview" style="text-align:justify;">
<p>oleh Cak Emha Ainun Najib</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Bukan Jabatan, melainkan Jiwa</span><br />
Menjadi tentara tidak sama dengan menjadi Bupati, Gubernur, Menteri atau Presiden.<br />
Tentara itu jiwa, Presiden itu jabatan.</p>
<p>Jabatan Presiden akan ditinggalkan dan meninggalkan (dengan paksa) orang yang menyandangnya, sedangkan ketentaraan adalah jiwa yang menyatu dengan manusianya, adalah ruh yang tak bisa dicopot kecuali oleh pengkhianatan dan ketidaksetiaan, adalah kepribadian yang mendarah daging sampai maut tiba.<br />
Jabatan sangat disukai oleh manusia yang menyandangnya, tetapi sangat bisa jadi jabatan diam-diam tidak menyukai manusia yang menyandangnya. Tetapi jiwa ketentaraan adalah cinta dan kebanggaan yang menangis jika manusianya mengkhianatinya, dan manusia yang mengkhianati jiwa ketentaraan itu tidak memiliki kemungkinan lain kecuali terjerembab ke jurang kehancuran.</p>
<p>Orang dengan jabatan akan mengalami post power syndrome, tetapi orang dengan jiwa ketentaraan tidak mengenal kata ‘post’, tidak mengenal ‘bekas’ atau mantan. Tentara boleh tidak bertugas lagi, boleh menjadi veteran, tetapi itu hanya urusan administrasi dan birokrasi formal, sedangkan kepribadian ketentaraannya tidak bisa dikelupas dari manusianya meskipun oleh kematian.</p>
<p style="color:#3333ff;">Dengan pemahaman seperti itu, maka andalan utama Prajurit dalam bermasyarakat bukanlah jabatan dan kekuasaan, bukanlah kegagahan dan kekuatan, melainkan kesetiaan dan sikap yang penuh perhatian kemanusiaan.</p>
<p style="font-weight:bold;">Prajurit Pangkat dan Prajurit Kepribadian</p>
<p>Prajurit memiliki dua pemaknaan. Pertama makna jasad, kedua makna rohani. Dalam pemaknaan jasad, prajurit dibedakan dari perwira. Tetapi di dalam makna rohani, prajurit adalah rohani kepribadian.</p>
<p>Kepribadian Prajurit Sejati tidak berkaitan dan tidak berbanding lurus dengan tingkat kepangkatan. Seorang prajurit dalam arti kepangkatan tidak melogikakan makna bahwa ia kalah sejati keprajuritannya dibanding perwira. Seorang Jenderal bisa kalah sejati keprajuritannya dibanding seorang Kopral.</p>
<p>Kata Prajurit Sejati adalah gelar kepribadian, bukan mengindikasikan tinggi rendahnya pangkat.</p>
<p>Bahkan sesungguhnya kata “Prajurit” tidak bisa dipisahkan atau malah mungkin tidak memerlukan kata “Sejati”, sebab kalau ia tidak sejati maka ia bukan prajurit.</p>
<p>Seorang prajurit bukan hanya “sebaiknya” berkepribadian sejati, melainkan “harus” dan “pasti” sejati. Sebab keprajuritan adalah keteguhan mempertahankan prinsip, keberanian menegakkan keyakinan, serta “ketenangan jiwa” untuk meletakkan kematian pada harga yang tidak lebih mahal dibanding keyakinan akan kebenaran.</p>
<p>Prajurit Sejati tidak menangis oleh kematian, ia hanya menderita oleh pengkhianatan dan ketidak-setiaan.</p>
<p style="color:#ff0000;">Dengan demikian bekal utama Prajurit dalam membaurkan dirinya ke tengah masyarakat bukanlah keunggulan dan kehebatan, melainkan keteladanannya dalam keteguhan memegang prinsip, keberaniannya menegakkan kebenaran, ketenangan jiwanya dalam membela nilai-nilai yang baik di antara sesama manusia.</p>
<p style="font-weight:bold;">Keperwiraan adalah Watak Prajurit</p>
<p>Bahkan sesungguhnya kata, idiom atau istilah “perwira”, “perwiro”, “keperwiraan”, diambil dari tradisi watak prajurit.</p>
<p>Ada kata lain dari bahasa lain yang mengindikasikan watak itu, misalnya “gentle”, “gentleness”. Bahasa Indonesia belum menemukan padanan popular dari kata “keperwiraan”, sering orang menggunakan idiom “kejantanan” &#8211; tetapi secara budaya kata ini kurang adil, karena “jantan” indikatif terhadap lelaki. “Jantan” terpaksa diakronimkan dengan kata “betina”. Hal ini menumbuhkan subyektivisme bahwa keperwiraan seolah-olah hanya milik kaum lelaki, sehingga segala yang tidak perwira disebut “betina”.</p>
<p>Pada kenyataannya tidak sedikit kaum wanita yang berwatak “jantan” dan banyak juga kaum lelaki yang “betina”. Maka Bahasa Indonesia sebaiknya meminjam kata “perwira” saja dari peradaban bahasa yang lebih tua.</p>
<p>Keperwiraan, watak prajurit itu, sesungguhnya menjelma dalam berbagai bidang kehidupan atau wilayah sosial.</p>
<p>Keperwiraan berpangkal pada kejujuran dan berujung pada keadilan.</p>
<p>Di dalam wilayah hukum, perwira disebut adil.<br />
Di wilayah moral, perwira disebut jujur.<br />
Di wilayah olahraga, perwira disebut sportif.<br />
Di wilayah budaya, perwira adalah kerendahan hati.<br />
Di wilayah ilmu, perwira disebut obyektif.<br />
Di wilayah cinta, perwira disebut setia.<br />
Di wilayah ketuhanan, perwira adalah kepatuhan.</p>
<p style="color:#33cc00;">Maka kehadiran utama Prajurit di tengah masyarakat adalah kepeloporannya di dalam menegakkan watak adil, jujur, sportif, rendah hati, obyektif, setia dan patuh kepada nilai-nilai sejati.</p>
<p style="font-weight:bold;">Sarjana Utama, Pendekar, Empu</p>
<p>Jika seseorang berhasil mencapai watak perwira, atau jika seorang perwira sukses mempertahankan kesejatian keprajuritannya, ia adalah Sarjana Kehidupan.</p>
<p>Jika prajurit yang perwira diuji digembleng dihajar oleh pengalaman-pengalaman khusus, sehingga ia layak berada di dalam barisan Pasukan Khusus: ia adalah Sarjana Utama Kehidupan. Ia seorang Doktor Pengalaman.</p>
<p>Kesarjanaan dan ke-Doktor-annya tidak terlalu substansial kaitannya dengan pangkat, terlebih lagi dengan jabatan. Kesarjanaan Prajurit dengan keperwiraannya bukan suatu benda yang menempel di badan atau pakaiannya, bukan pula ditandakan oleh kursi yang didudukinya: melainkan watak, karakter, jiwa, yang sudah menyatu dengan aliran darahnya, denyut nadinya, tarikan nafasnya, ekspresi wajah dan sorot matanya, serta dengan seluruh tata nilai dan pola perilaku kehidupannya.</p>
<p>Jika seorang Prajurit dengan kadar keperwiraannya diletakkan pada suatu tingkat kepangkatan, maka pangkat itu tidak menambah kesejatian keprajuritan serta keperwiraannya, melainkan pangkat itu menguji keprajuritan dan keperwiraannya.</p>
<p>Jika seorang Prajurit dengan wibawa keperwiraannya dijunjung di atas kursi jabatan, maka jabatan itu tidak punya potensi untuk membuat keprajuritan dan keperwiraannya menjadi lebih terpuji, karena justru jabatan adalah medan uji bagi keprajuritan dan keperwiraannya.</p>
<p>Maka seorang prajurit, seorang Perwira, yang adalah Sarjana Utama, Doktor, Empu Kehidupan: jika menempati suatu jabatan, ia tidak tergiur oleh jabatan itu, karena keprajuritan dan keperwiraan jauh lebih mahal dari jabatan setinggi apapun. Ia menjalankan tugas jabatannya tidak untuk membanggakannya, melainkan untuk membuktikan kesetiaan keprajuritannya dan kesejatian keperwiraannya bagi manfaat yang seluas-luasnya bagi bangsa, Negara dan masyarakatnya.</p>
<p>Jika seorang Prajurit dengan keperwiraannya memperoleh kesempatan hidup untuk memiliki kekayaan dan harta benda yang berlimpah, maka limpahan harta itu tidak menambah apapun atas kesejatian keprajuritan dan keperwiraannya, kecuali jika harta itu ia dayagunakan untuk keperluan-keperluan kemasyarakatan yang luas.</p>
<p style="color:#660000;">Maka kebanggaan Prajurit di dalam kehidupan bermasyarakat bukanlah pangkatnya, jabatan dan atau kekayaannya, melainkan bukti-bukti kesejatian keprajuritannya dan praktek-praktek keteguhan keperwiraannya.</p>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/smail10.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/smail10.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/smail10.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/smail10.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/smail10.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/smail10.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/smail10.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/smail10.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/smail10.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/smail10.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/smail10.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/smail10.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/smail10.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/smail10.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/smail10.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/smail10.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=smail10.wordpress.com&amp;blog=3626155&amp;post=23&amp;subd=smail10&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/jendela-hati-buat-prajurit-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eef499e83d6f123cb7942a6720b16081?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">smail10</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mati Serius Cara Ketawa</title>
		<link>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/mati-serius-cara-ketawa/</link>
		<comments>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/mati-serius-cara-ketawa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 18:46:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismail Mohammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Forum diskusi Cak Emha Ainun Najib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smail10.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[oleh cak Emha Ainun Najib Di Indonesia, tak ada cerita koran atau majalah mati dalam keadaan atau dengan cara ketawa. Pasti dengan sedih dan duka derita. Kenapa? karena negara kita adalah negara Indonesia, bukan negara Madura.Bukan politik yang saya bicarakan, melainkan agama. Bagi orang Madura yang umumnya religius dan sangat serius dengan religiusitasnya, mati adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=smail10.wordpress.com&amp;blog=3626155&amp;post=22&amp;subd=smail10&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">oleh cak Emha Ainun Najib</p>
<div class="snap_preview" style="text-align:justify;">
<p>Di Indonesia, tak ada cerita koran atau majalah mati dalam keadaan atau dengan cara ketawa. Pasti dengan sedih dan duka derita. Kenapa? karena negara kita adalah negara Indonesia, bukan negara Madura.Bukan politik yang saya bicarakan, melainkan agama.</p>
<p>Bagi orang Madura yang umumnya religius dan sangat serius dengan religiusitasnya, mati adalah kegembiraan yang kalau Tuhan membolehkan &#8211; akan mereka jalani dengan tertawa-tawa. Bagaimana tidak, wong mati itu artinya sukses berpisah dari duniayang kerjaannya cuma menipu, dan ketemu dengan Kekasih yang amat didamba-damba, itu pun dengan jarak waktu yang tak terbatas, bahkan waktu itu sendiri tak cukup untuk menampung pertemuan mesra antara para kekasih dengan Kekasih mereka.Karena itu kalau mereka berduyun-duyun pergi ke masjid, berbinar-binar wajah mereka. Kalau mereka pergi haji ke Mekah, bercahayalah air muka mereka, sambil diam-diam berdoa: “Kekasih,ambilah aku selama-lamanya! Tak usah Engkau kirim aku kembali ke negeri tipu daya yang penuh fatamorgana di toko-toko serba ada, serta yang kalau seorang bupati mendapatkan rakyatnya mati ditembak tentara dalam proyek yang dijalankannya, ia malah tampak bangga….”</p>
<p>Lain dengan kita yang di Jawa, terutama di Jakarta. Kalau pergi salat Jumat, cemberut wajah kita, dan sesampainya di masjid, dijamin pasti ngantuk mata kita.</p>
<p>Kita di kota-kota besar, di wilayah-wilayah metropolitan dari peradaban yang mengaku paling maju ini, telah menjatuhkan pilihan untuk berpacaran tidak dengan Kekasih Sejati, melainkan dengan kesenangan-kesenangan temporer, dengan kekasih-kekasih sementara yang kita book per-jam, dengan kendaraan-kendaraan yang selalu baru, syukur berusia di bawah 20 tahun, serta dengan kedudukan-kedudukan yang jasanya adalah membuat kita merasa cemas akan dijatuhkan oleh para demonstran darinya.</p>
<p>Jadi bagi kita yang sudah “maju”, yang ada hanya mati cemberut, mati tidak rela. Mati kita tidak serius, tidak benar-benar bersedia menerima mati, alias terpaksa. Kalau malaikat bertanya: “Maunya kamu hidup sampai umur berapa sih?”</p>
<p>Kita menjawab, “Yaaah, paling tidak 70 tahun-lah.” Malaikat menggoda: “Bagaimana kalau saya usulkan ke Tuhan umurmu diperpanjang 10 tahun lagi, jadi 80 tahun?”<br />
Kita menjawab, “Wah, al-hamdulillah banget”. “kalau ditambah jatah 20 tahun<br />
lagi, mau?” Wajah kita malu-malu, tapi jawaban kita jelas: “Ya, mosok ndak<br />
mau…”<br />
“Kalau 30 tahun lagi, 40 tahun lagi, 1000 tahun lagi….?” Kita salah tingkah,<br />
tapi jelas: mau! Padahal ternyata Tuhan hanya ngasih jatah kita 55 tahun, dan itu hak Dia sepenuhnya, wong Dia yang bikin kita, Dia yang memiliki license dan copyright atas eksistensi kita seratus persen. Mau apa, lu?</p>
<p>Ya, kagak mau ape-ape. Jangankan ame Tuhan, mau melawan petugas saja ampun-ampun. Cuma dongkol doang. Nelangsa. Sampai akhirnya benar-benar mati, mati nelangsa.</p>
<p>Padahal orang Madura tidak mati nelangsa. Mereka umumnya mati ketawa. Rela mati, bahkan memang mengharapkan mati. Karena mati bukan tragedi, melainkan pertemuan cinta abadi. Karena itu juga Madura lebih ringan membayangkan indikator apa saja yang bisa membawa ke kematian. Carok tidak keberatan: akibat paling puncak paling-paling kan mati. Dan carok kan peristiwa untuk membela kehormatan, harga diri dan nilai moral. Memang carok bukan cara yang dewasa dan beradab untuk menyelesaikan masalah. Tapi terus terang saja mereka yang tidak setuju, tak menerima dan tak berani carok itu bukan berarti sudah dewasa dan lebih beradab. Mereka tak mau carok karena memang standar kehormatan, harga diri dan moralitas yang hendak dipertahankan memang sudah tidak ada, atau sekurang-kurang-nya sudah tipis,sudah dikurangi sambil ditutup-tutupi dengan argumentasi-argumentasi yang muluk-muluk cara orang modern mengkosmetiki bibirnya yang kebanyakan nyinyir.<br />
Alhasil, arti Mati Ketawa Cara Madura, adalah mati serius yang dijalani gembira dan batin tertawa-tawa.</p>
<p>Mati mereka serius, sehingga hidup pun mereka jalani dengan serius, karena kehidupan adalah suku cadang untuk merakit kematian yang sebaik-baiknya. Setetes darah pun mereka hayati dengan penuh keseriusan, dengan penuh prinsip dan pertimbangan nilai yang matang. Ketika seorang pemuda Madura tergeletak dirumah sakit, diinfus dan membutuhkan sumbangan darah untuk dipompakan ke dalam tubuhnya agar bertahan hidup &#8211; ia tetap juga serius untuk memoralkan setiap tetes darah yang akan masuk ke dalam dirinya.<br />
Tatkala darah yang dibawa kepadanya adalah darah salah seorang pamannya, ia menolak keras: “Saya ‘dak sudi dimasuki darah paman saya! Lha wong dia suka maling dan ganggu istri orang. Kalau darah dia mengalir di badan saya, siapa yang kelak akan mempertanggung jawabkan darah itu di depan Tuhan? Darah itulah yang menjadi sumber tenaga dari kekuatan-kekuatan kurang ajar dia, saya ‘dak sudi dibebani kekurang ajaran itu. Dan kalau nanti darahnya saya pakai untuk amal, saya ‘dak mau dia yang mendapat pahala!”<br />
Betapa ketawa kematian mereka…..</p>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/smail10.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/smail10.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/smail10.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/smail10.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/smail10.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/smail10.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/smail10.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/smail10.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/smail10.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/smail10.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/smail10.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/smail10.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/smail10.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/smail10.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/smail10.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/smail10.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=smail10.wordpress.com&amp;blog=3626155&amp;post=22&amp;subd=smail10&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/mati-serius-cara-ketawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eef499e83d6f123cb7942a6720b16081?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">smail10</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SAHABAT DAN UMMAT</title>
		<link>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/sahabat-dan-ummat/</link>
		<comments>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/sahabat-dan-ummat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 18:39:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismail Mohammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Forum diskusi Cak Emha Ainun Najib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smail10.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Oleh cak Emha Ainun Najib Maiyah ialah: kalau Anda shalat berjamaah di Masjid, pastikah Anda tahu siapa yang shalat berjajar di samping kanan atau kirimi? Tahu siapa namanya? Kira-kira berapa umurnya? Rumahnya di mana? Sudah kawin atau belum? Berapa anaknya? Kerjanya apa? Kaya atau miskin atau sedang-sedang saja? Apakah teman sejamaahmu itu hatinya sedang gembira [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=smail10.wordpress.com&amp;blog=3626155&amp;post=21&amp;subd=smail10&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh cak Emha Ainun Najib</p>
<div class="snap_preview" style="text-align:justify;">
<p>Maiyah ialah: kalau Anda shalat berjamaah di Masjid, pastikah Anda tahu siapa yang shalat berjajar di samping kanan atau kirimi? Tahu siapa namanya? Kira-kira berapa umurnya? Rumahnya di mana? Sudah kawin atau belum? Berapa anaknya? Kerjanya apa? Kaya atau miskin atau sedang-sedang saja? Apakah teman sejamaahmu itu hatinya sedang gembira ataukah sedih? Sedang punya problem atau tidak?</p>
<p>Apakah sebuah jamaah di masjid pernah menyelenggarakan lita’arofuu, berkenalan satu sama lain, sebagaimana Allah meniscayakan segala makhluknya? Pasti Anda dan orang semasjid itu adalah saudara seiman seislam. Anda dengan mereka yasyuddu ba’dhuhum ba’dho. Saling memperkuat satu sama lain. Ibarat satu badan, kalau kaki terjepit, mata yang menangis. Kalau pipi ditampar, hati yang sedih. Apakah memang sudah demikian nilai perhubungan Anda dengan orang-orang yang bareng bersembahyang dengan Anda?<br />
Ataukah Anda tidak pernah kenal mereka kecuali satu dua belaka yang kebetulan pernah berkenalan? Dan Anda tidak tahu apakah teman shalat Anda itu masih punya beras atau tidak di rumahnya, juga Anda tidak punya siapa-siapa di masjid itu untuk mengungkapkan bahwa anak Anda sakit keras sementara istri Anda rewel.<br />
Padahal katanya ummat Islam itu satu badan. Kalau ada satu saja orang kelaparan dan tidak ada sistem hubungan yang memungkinkan ia ditolong oleh lainnya, maka semua ikut berdosa.<br />
Apakah dengan orang-orang yang bareng bersujud itu Anda saling terikat oleh nilai-nilai persaudaraan, logika ukhuwah, kesetiaan moral, kewajiban tolong menolong &#8211; ataukah Anda semua ini tiap hari berjamaah shalat tetapi kehidupan nyata Anda berlangsung sendiri-sendiri, individual dan egoistik?<br />
Jangankan lagi peningkatan mutu dari keislaman ke keimanan. Dari kualitas Muslim ke derajat Mu’min. Mu’min, iman, aman..karena Anda satu ummat dan karena Anda mu’min maka segala perilaku dan bicara Anda selalu mengamankan semua yang ada di sekitar Anda. Apakah dalam berdagang Anda mengamankan saudara-saudaramu karena engkau Mu’min? Apakah dalam menjalankan kehidupan sehari-hari Anda menciptakan rasa aman bagi saudara-saudaramu? Apakah parpolmu, kampanyemu, jabatanmu, uangmu, kekuasaanmu, kekuatanmu, akses-aksesmu &#8211; membuat saudara-saudaramu aman, ataukah justru mereka merasa terancam?<br />
Kalau Megawati adalah presiden PDIP maka yang non-PDIP merasa tidak aman. Maka Megawati dilarang oleh akal sehat dan moralitas kebangsaan untuk menjadi Presiden PDIP, sebab kewajiban formalnya adalah menjadi Presiden Republik Indonesia. Sehingga ia menjamin keamanan semua pihak di Indonesia, bahkan menjamin keamanan tanah, pohon, angin, air, kalau perlu juga Jin dan hantu-hantu di seantero Indonesia.<br />
Kalau pemimpin engkau ambil dari suatu golongan, maka siapkan dua hal dalam hidupmu: engkau menjadi ancaman, atau engkau berposisi terancam.<br />
Apakah Gus Dur merasa aman atas Amin Rais? Apakah Amin Rais merasa aman atas Gus Dur? Demikian juga pemimpin-pemimpin dan berbagai golongan social dan politik di negeri ini, adakah rasa aman satu sama lain? Bahkan kalau suatu malam Anda naik motor lewat tuwangan atau bulak dan Anda dibegal orang motor dan dompet direbut &#8211; jangan membayangkan bahwa pembegalmu itu orang PKI atau orang kafir. Besok malam engkau sebenarnya bisa ketemu dia di pengajian, lusa Jum’atan bareng,, dan nanti kalau dia punya duit juga akan bareng kami naik haji.<br />
Sedangkan dengan tetanggamu yang seiman sebangsa sesuku sekampung saja engkau tidak sungguh-sungguh merasa aman. Jadi tidak rasional kalau engkau mengira bahwa da Ummat Islam yang kalbun-yan yasyuddu ba’dhuhum ba’dho. Yang saling tolong menolong dan melindungi satu sama lain.<br />
Maka untuk tahap sekarang ini, sebelum tercipta dan terbangun “ummat”, tentukan dan pastikan dulu siapa “sahabat”mu. Sahabat yang kita saling gembira kalau ada satu yang gembira, saling sedih kalau ada satu yang bersedih. Saling setia, bertanggung jawab, santun dan berkasih sayang.<br />
Mungkin “sahabat”mu itu hanya dua orang, tiga orang, sepuluh orang atau berapapun. Tapi mereka tidak membiarkan anakmu sakit tanpa pengobatan, dan engkau tidak membiarkan keluarga mereka kelaparan dan berduka. Tidak usah membayangkan Maiyah Indonesia Raya dulu, cukup tentukan yang jelas siapa-siapa “sahabat”mu dalam kehidupan yang penuh tekanan dan ancaman ini.<br />
Itulah “Ummat” kecilmu, “ummat” sejatimu. Itulah Indonesia kecilmu, Indonesia sejatimu. Itulah maiyah.******</p>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/smail10.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/smail10.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/smail10.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/smail10.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/smail10.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/smail10.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/smail10.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/smail10.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/smail10.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/smail10.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/smail10.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/smail10.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/smail10.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/smail10.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/smail10.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/smail10.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=smail10.wordpress.com&amp;blog=3626155&amp;post=21&amp;subd=smail10&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/sahabat-dan-ummat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eef499e83d6f123cb7942a6720b16081?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">smail10</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AHLI PENDIDIKAN BARANG</title>
		<link>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/ahli-pendidikan-barang/</link>
		<comments>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/ahli-pendidikan-barang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 18:38:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismail Mohammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Forum diskusi Cak Emha Ainun Najib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smail10.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[oleh cak Emha Ainun Najib Ini lanjutan maiyah yang lalu, yang kalimat terakhirnya — Kata orang “hidup seperti roda, kadang kita di atas kadang di bawah”. Ketahuilah, kuatkan hatimu, tidak pasti demikian di Indonesia. Anda bisa terus menerus di bawah sampai saat sekarat Anda. Tidak jauh-jauh cari contoh: ya saya sendiri ini. Umpamanya kalau yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=smail10.wordpress.com&amp;blog=3626155&amp;post=20&amp;subd=smail10&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="snap_preview" style="text-align:justify;">
<p>oleh cak Emha Ainun Najib</p>
<p>Ini lanjutan maiyah yang lalu, yang kalimat terakhirnya — Kata orang “hidup seperti roda, kadang kita di atas kadang di bawah”. Ketahuilah, kuatkan hatimu, tidak pasti demikian di Indonesia. Anda bisa terus menerus di bawah sampai saat sekarat Anda.<br />
Tidak jauh-jauh cari contoh: ya saya sendiri ini. Umpamanya kalau yang disebut bawah misalnya adalah tukang becak atau orang biasa lainnya, dan paling atas adalah presiden – maka dari dulu sampai sekarang saya ini letaknya di bawah terus.</p>
<p>Kalau dari segi pangkat atau jabatan, saya nol besar. Menjadi camat saja tidak cocok, dan kalau ikut pemilihan pasti rakyat bingung dan Bupati tidak punya alasan untuk menyetujui. Jangankan lagi omong jadi gubernur atau menteri. Sekolah saya tidak pernah beres. SD jebol tiga kali. SMP tidak begitu sah kelulusan saya, dan SMA Muhammadiyah I Jogja meluluskan saya karena guru-gurunya kompak tidak mau lagi ada urusan dengan saya, jadi diluluskan saja.<br />
Pengalaman organisasi saya tidak punya sama sekali. Prestasi ilmiah tidak punya. Kalau disuruh mengisi curriculum vitae, yang terisi cuma tanggal dan tempat lahir, lain-lainnya kosong. Pernah saya mau dikirim ke Amerika Serikat tahun 1970, tapi dibatalkan karena ketahuan saya orangnya Suharto.<br />
Dulu saya pernah seolah-olah di atas. Sedikit dikenal orang karena kadang-kadang masuk layar televisi, bahkan nama saya sering nongol di koran-koran atau majalah. Tapi karena kemampuan terbatas, otak tidak lancar kecerdasannya, kreativitas mandeg – akhirnya tidak sanggup lagi berposisi seperti itu. Bahasa jelasnya: sekarang saya tidak laku. Di teve tidak laku, di koran tidak laku. Kalau tulisan ini masih bisa masuk koran, itu karena redakturnya memiliki rasa santun kemanusiaan yang tinggi.<br />
Saya sudah tua dan semakin tidak punya kekuatan untuk bertahan di tengah dunia yang semakin canggih. Setidaknya ada dua syarat bagi siapa saja yang ingin eksis di tengah kehidupan modern yang professional, industrial dan kapitalistik seperti sekarang ini. Pertama, harus pandai berdagang. Kedua, harus berani berkompetisi.<br />
Kedua-duanya itu saya hampir tidak memiliki. Dunia dagang, niaga, bisnis, ekonomi – saya nul puthul. Blass saya ndak bisa dagang. Ada mantan menteri pasang tariff serangkaian ceramah 100 juta, misalnya di Tuban dan Surabaya. Masyarakat bodoh di propinsi dan kabupaten mana yang mau dengan tolol membayar saya 100 juta rupiah untuk ceramah?<br />
Sedangkan ilmu saya tidak jelas. Kategori profesi saya juga tidak jelas. Disebut Kiai, wong tidak menguasai kitab-kitab. Disebut cendekiawan, wong pengetahuan saya serabutan, tidak tertata, tidak akademis dan tidak ilmiah. Disebut sastrawan, wong terbukti tidak bisa bertahan, dan sekarang sudah bukan sastrawan lagi. Disebut penyair, wong ternyata yang saya hasilkan itu tidak memenuhi syarat estetika puisi. Disebut penyanyi, wong suaranya kakehan ngrokok klobot. Disebut dukun, wong kemampuan pengobatannya setengah-setengah.<br />
Hampir tidak punya daya saing. Kalau ada orang bersaing sama saya, pasti saya mundur karena pasti kalah. Jadi saya tidak pernah tertarik pada peribahasa “hidup seperti roda, kadang kita di atas, kadang di bawah”. Apalagi di usia menjelang 60 tahun sekarang ini baru saya sadar apa bakat saya yang sebenarnya. Yakni main sepakbola dan bertinju. Tapi klub RT mana yang mau menerima manula jadi anggota kesebelasannya. Sasana tinju mana yang tidak mentertawakan kalau saya melamar mau main tinju. Satu-satunya kemungkinan saya ikut Ultimate Fight – di sana tidak ada batasan apapun. Biar udzur usia, asal pinter ngempit kan menang…..****</p>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/smail10.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/smail10.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/smail10.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/smail10.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/smail10.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/smail10.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/smail10.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/smail10.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/smail10.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/smail10.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/smail10.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/smail10.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/smail10.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/smail10.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/smail10.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/smail10.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=smail10.wordpress.com&amp;blog=3626155&amp;post=20&amp;subd=smail10&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/ahli-pendidikan-barang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eef499e83d6f123cb7942a6720b16081?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">smail10</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HALAL MALING, HALAL DHOLIM</title>
		<link>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/halal-maling-halal-dholim/</link>
		<comments>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/halal-maling-halal-dholim/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 18:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismail Mohammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Forum diskusi Cak Emha Ainun Najib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smail10.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Oleh cak Emha Ainun Najib Dari sisi ideologi lingkaran-lingkaran maiyah menawarkan dan menyebarkan independensi, karena pohon nasionalisme hanya bisa subur di atas tanah independensi. Nasionalisme layu, rontok dan ambruk jika ditanam di atas tanah primordialisme, fanatisme golongan, pembelaan buta kepada kelompok sendiri. Megawati bukan lagi Ketua PDIP, melainkan pemimpin seluruh rakyat. Kalau dia sangat jenius [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=smail10.wordpress.com&amp;blog=3626155&amp;post=19&amp;subd=smail10&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Oleh cak Emha Ainun Najib</p>
<p style="text-align:justify;">Dari sisi ideologi lingkaran-lingkaran maiyah menawarkan dan menyebarkan independensi, karena pohon nasionalisme hanya bisa subur di atas tanah independensi. Nasionalisme layu, rontok dan ambruk jika ditanam di atas tanah primordialisme, fanatisme golongan, pembelaan buta kepada kelompok sendiri.<br />
Megawati bukan lagi Ketua PDIP, melainkan pemimpin seluruh rakyat.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau dia sangat jenius dan memiliki tingkat kearifan dan kenegarawanan yang mumpuni, silahkan dia pakai kostum dobel – sebagai ketua parpol dan presiden sekaligus. Amin Rais lebih berat lagi: memimpin PAN sangat gampang dibanding memanggul amanat kerakyatan yang kadar otoritasnya di atas level presiden. Apalagi tingkat sakit hati dan sakit jiwa bangsa Indonesia sedemikian kompleksnya. Amin punya mutu mendekati Wali atau Nabi sehingga berani menjadi ketua partai sekaligus ketua MPR, tapi kita orang-orang bodoh se-Indonesia tidak sanggup merumuskan bagaimana menanggapi hal-hal semacam itu.<br />
Teman-teman di DPR pusat maupun daerah begitu terpilih di Pemilu, sudah bukan wakil parpol lagi, melainkan wakil rakyat secara keseluruhan, secara substansi dan aspirasi – sebab Pemilu hanya metoda teknis untuk memilih wakil. Tetapi begitu bertugas di dewan perwakilan, kara ‘rakyat’ di DPR jangan diganti dengan nama partai. Sehingga tak ada Fraksi PDIP, Fraksi Reformasi atau apapun, sebab hanya ada Perwakilan Rakyat: fraksinya tidak lagi berdasarkan pengelompokan subjek, melainkan berdasarkan identifikasi permasalahan dan tema yang diurus oleh tugas-tugas perwakilan mereka.<br />
Tradisi indenpendensi dalam maiyahan mendidik kebiasaan untuk bersikap independen. Dasarnya dari cara berpikir yang obyektif, diperkuat oleh kebersihan hati (maka selalu dilantunkan lagu-lagu yang sehat), cara memandang persoalan yang adil. Di dalam maiyah tidak diperkenankan (oleh moral bersama) di mana seseorang memandang seseorang pasti benar dan baik karena dia segolongan separtai dan masih Oom sendiri. Atau seseorang yang lain selalu salah dan jelek karena tidak segolongan. Tidak bisa kita menjunjung tokoh yang karena kita takdzim kepadanya maka beliau halal maling, halal dholim, halal melakukan dan omong apa saja dan kita selalu benarkan.<br />
Dulu kita kompak melawan Orde Baru dan selalu ngumpul sangat banyak orang karena kita punya satu musuh bersama, misalnya bernama Suharto. Setelah Suharto jatuh, kita tidak bisa kompak lagi karena sesungguhnya yang kita musuhi ternyata bukan Suharto. Yang kita musuhi adalah peluang-peluang sejarah Suharto kok tidak berada pada diri kita dan golongan kita. Mestinya jangan Suharto yang berkuasa dan kaya, cocoknya saya yang berkuasa dan kaya.<br />
Setiap orang memendam kata-kata semacam itu di lubuk hatinya, dan kemudian menjadi dasar ideologi pendirian partai-partai – sehingga kita kehilangan kekompakan. Setiap kita menjadi Suharto. Kalau kita pribadi nggak mampu jadi Suharto, ya Gus Dur kita Suhartokan, tetangga kita menSuhartokan Megawati atau Amin Rais atau siapa saja – dan masing-masing kita menjadi Golkarnya, Pemuda Pancasilanya, sambil royokan menjadi Tommy-nya.<br />
Kalau tidak mampu jadi Suharto level-level penting, ya yang penting bisa ikut. Tak bisa ngrampok, ya ngemis. Asalkan pandai membungkusnya dengan bahasa reformasi, ditambah ayat-ayat, hadits dan kata-kata mutiara, serta rajin naik haji. Yang kita maksudkan dengan Suharto bukanlah orang jahat: Suharto adalah siapa saja yang tidak sejalan dengan kepentingan pribadi dan golongan kita.****</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/smail10.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/smail10.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/smail10.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/smail10.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/smail10.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/smail10.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/smail10.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/smail10.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/smail10.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/smail10.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/smail10.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/smail10.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/smail10.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/smail10.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/smail10.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/smail10.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=smail10.wordpress.com&amp;blog=3626155&amp;post=19&amp;subd=smail10&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smail10.wordpress.com/2008/05/02/halal-maling-halal-dholim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eef499e83d6f123cb7942a6720b16081?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">smail10</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
