Sosok yang ke empat (2) Mei 2, 2008
Posted by Ismail Mohammad in Renungan & Hikmah Kehidupan.add a comment
ah..rasanya baru kemaren aq coba untuk merekonstruksi pemikiranku yang mengendap dalam otak selama lebih dari setahun itu.Alhamdulillah sedikit mulai tersibak dan tercerahkan rahasia tersebut ketika ku coba membaca dari blog pemikiran2 dan forum diskusi cak emha (lagi-lagi cak emha, pancen top markotop “kyai mbeling” iki) dalam diskusinya yang secara tak sengaja aq dapatkan dari blog “tetangga”. Beliau mengemukakan bahwa:
Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama.
Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.
Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial.
Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya.
Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama.
Orang beragama ialah Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas).
Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.
dalam konteks itu digambarkan bahwa keshalehan sosial menjadi poin terbesar dalam menilai seseorang yang di anggap punya agama yang baik. dan bila ku kaitkan dengan sosok ke 4 yang aku maksud tersebut rasanya pas klop banget dengan penggalan dari hasil pencerahan yang di berikan oleh cak nun. dan cuma sebagai mahluk ku cuma bisa berharap kepada raja segala raja penguasa alam semesta semoga kelak itu menjadi solusi dari pencarianku selama ini……Amin
“Ya Allah, ya rabb jikalau engkau berikan kepadaku ladang kering nan tandus, maka turunkanlah hujan dari langitmu, tuk jatuh di ladang itu, sehingga tercipta sebuah harapan tuk kesuburan dan kemanfaatan. dan berikanlah kekuatan dan kesabaran serta keikhlasan kepadaku untuk mengolah dan mananaminya dengan benih-benih ilmu Mu.Dan sebaliknya jikalau engkau berikan aku ladang yang subur janganlah engkau butakan mata dan hatiku untuk selalu mengingatmu amin..amin ya rabbal alamin”
wallahu a’lam bishawab.
matur sembah nuwun
sosok yang ke empat Mei 2, 2008
Posted by Ismail Mohammad in Renungan & Hikmah Kehidupan.add a comment
Sudah setahun rasanya diskusi dengan teman saya ini masih menjadi bahan renungan bagiku dan masih menjadi pertanyaan besar yang masih terus saya cari…lets begin the story…waktu itu duduk-duduk depan bangku lab. kampus santai dengan kedua teman setelah melepas penat sehabis mengerjakan tugas pembuatan alat untuk persiapan TA,, cerita panjang lebar ngalor ngidul dan akhirnya ada salah satu di antara kita yang nyeletuk ngomong. eh kira-kira tipe wanita seperti apa seh yang kamu inginkan untuk dijadikan pasangan? kontan masing-masing memberikan jawaban yang beragam (walaupun agak sedikit malu untuk mengungkapkan), yang cantik, kaya, keturunan yang baik dan solehah begitu masing masing memberikan jawaban, tapi sebelum aku memberikan jawaban teringat pesan ibu tentang kiat kiat memilih wanita untuk di jadikan pasangan hidup, beliau berpesan
“wong wadon (Wanita) iku dipilih kerno 4 perkoro,sing sepisan kerno keturunane (keturunannya), nomer lorone kerno sugih (Hartanya),ke telu ne kerno ayune (Kecantikannya) lan kaping papat iku kerno agomone (Agamanya),sopo wong nge sing milih agamane bakal selamet/kepenak uripe”
Dengan agak sedikit sok tahu aku lontarkan jawaban ku itu ke forum, agak terkejut juga mereka mendengar jika jawaban itu, kenapa koq no 4? tentunya dengan pemahaman yang masih hijau tentunya alais apa adanya, tnapa perenungan tentunya. dan setelah itu selang beberap juta jam berapa ratus hari dan skitar setahun jawaban itu maasih terngiang ngiang di kepala, sebenarnya seperti apa toh sosok no 4 itu?
Bagaimana sosok yang no 4 itu kita gambarkan? apakah yang pinter ngaji, rajin shalat atau what ever lah,dan yang pasti kita membutuhkan dimensi irasional untuk menelaahnya karena masalah agama itu tidak boleh dilihat hanya dari bentuk luarnya, terkadang kita masih terjebak pada pemikiran kita yang masih lateral artinya melihat sesuatu hanya pada bagian luarnya saja, jika melihat orang yang pake jubah, bersurban atau yang pakai kopyah haji diangagp orang baik, sholeh dan rajin ibadah dan mungkin mengaggap orang tsb suci. Ternyata bukan seperti itu kita mengartikannya, tidak hanya boleh melihat dan mendengar dengan panca indra yang kita miliki. Tapi dibutuhkan juga kemampuan diluar kelima indra yang kita miliki untuk menemukan sosok tersebut. dan inilah inti dari bahan renungan yang terus sampai ini aku cari, cari dan mencari….dan saya yakin sekelumit jawaban diatas belum final dan masih membutuhkan perenungan yang mendalam. sehingga peranan sifat Sabar dan Ikhlas perlu aku kedepankan dalam mencari jawaban tersebut.
………
wallahu a’lam bishawab
UNAS Oh UNAS Mei 2, 2008
Posted by Ismail Mohammad in Renungan & Hikmah Kehidupan.add a comment
Diskusi menarik antara saya, firman, indra dan heri sore tadi sebelum kuliah yang membahas seputar unas yang sedang berlangsung, mengkritisi bagimana sistem pendidikan kita sampai masalah cara ngajar dosen di jurusan.
si indra awal memulai diskusi kami tadi,sambil makan roti dia ngomong panjang lebar yang intinya ia mengkritisi tentang keefektifan di adakan unas yang berkorelasi dengan standart kelulusan yang dia rasa sangat tinggi bagi sebagian siswa SMA (standart kelulusan 5,5).dia mengambil contoh bahwa keberadaan siswa di daerah terpencil dan masih tergolong “terbelakang” seperti papua, menurut analisis dia sangat tidak mungkin bila standart itu diterapakan disana, mengingat pemerintah dalam hal ini Diknas memukul rata standart kelulusan tersebut tidak “pandang bulu” topologi daerah tersebut. menurut dia mbok ya di benahi dulu sistem dan pemerataan sarana pendidikan nasional, baru program2 yamg “nyeleneh” bisa kita substitusikan kedalam sistem tsb. Ibarat sebuah bangunan kuatkan dulu basenya agar kalo sudah berdiri dan jadi sebuah bangunan jika disii yang macam2 ga menambah masalah kepada struktur (sistem) nya dan memperindah bangunan nya sendiri. dia juga merasa kasihan (kebetulan adiknya yang masih SD juga lagi unas), bagaimana beban adiknya semakin berat dalam bersekolah dan efek dari itu semua bisa memunculkan gangguan psikologis yang parah. masih ingat ada anak SD yang gantung diri gara 2 dianggap bodoh kemudian di olok2 teman mereka sendiri, karena minder atau entah bagaiamana sehingga ia nekat Bunuh Diri. Ironis!
Laen lagi denganku yang coba membenarkan cara yang sedang ditempuh DIKNAS tersebut tentang UNAS, sekedar dan coba memberi jawaban yang agak laen bahwa itu semua digunakan untuk mengukur dan memetakan pendidikan yang ada dinegara ini, sehingga nantinya bisa dilihat daerah mana yang sudah maju dan belum, agar nantinya program perbaikan-perbaikan yang akan dilakukan pemerintah tadi bisa berlangsung efektif dan efisien.singkatnya bahwa hasil/tingkat kelulusan siswa daerah tersebut menjadi data acuan bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan-perbaikan.
lain lagi si heri dengan logat maduranya yang masih kental mencoba memberikan perbandingan tentang pendidikan dindonesia dengan jepang, berdasarkan penuturan pak agung pas waktu kuliah FISMOD, bahwa metode yang dilakukan jepang patut di acungi jempol dimana anak2 yang masuk TK tidak boleh di ajari Membca dan MEnulis tapi lebih kepada bagaiman menumbuhkan kesadaran diri atau dengan kata lain seorang siswa lebih di ajarkan untuk mengenal dirinya sendiri, mengexplore seluas-luasnya kepribadian individu sehingga diharapkan akan tecipta kreativitas (jadi ingat sebuah pepatah jikalau engkau ingin sukses maka kenalilah dirimu sendiri) dan attitude yang baik. kejadian pak agung waktu itu adalah beliau mencoba untuk mengajari membaca murid TK eh bukannya malah di puji malah dapat pukulan dari guru TKnya (heh..)
Hal yang patut digaris bawahi adalah bahwa pentingnya mengenal diri sendiri sejak dini potensi2 serta kekurangan yang dimiliki menjadi sangat penting. beda dengan kita akan menjadi lebih bangga jikalau melihat anak atau adik2 kita yang masih kecil pandai membaca, dan menhafal suatau pelajaran tertentu yang tanpa kita sadari bahwa hal itu sebenrnya kurang baek terhadap anak atau adik kita yang masih di bangku kita.
dan kita semakin miris mendengar uraian dari beberapa pakar pendidikan yang ada dinegeri kita bahwa seakan-akan pendidikan kita masih pada taraf “Menghafal” dan belum atau sama sekali menyentuh kalimat “Memahami”.
si firman yang co.Ws mencoba memberikan pendapatnya, he said paling enak jamnne sampyan dhisik yo mas (merujuk ke saya mksudya) sing penting melok UNAS nilai ga jadi masalah..he..he…saiki tambah berat. seakana memberikan pendapat yang sama ya di lontarkan indra dan heri.
Dari rangkaian diskusi diatas teringat akan tulisan dari pak Nuh dari bukunya “Membangun bersama ITS: Meletakkan dasar, menuai Hikmah”, tentang isu “Mempertanyakan Kesalahan dari pendidikan kita” dipaparkan bagaimana oleh beliau Tentang karakter dari bangsa ini terkait dengan dunia kesalahan dari pendidikan kita.
Ada pertanyaan besar yang dilamatkan kepada pendidikan kita., tentang kontribusi pendidikan kita terhadap nation karakter bangsa kita pada saat ini, kita tahu bahwa karakter ini sangat penting, karena karakter ini merupakan modal utama untuk mempertahankan eksistansi dan membangun bangsa ini. dan setidaknya ada 4 langkah untuk memulianya yaitu:
- Perubahan paradigma didalam proses edukasi atau belajar mengajar.
- Peran guru sebagai role model (keteladanan) harus di tonjolkan
- Membangun kultur di dalam tiap lembaga pendidikan yang bersumber dari budaya yang ada.
- Perlunya dukungan terhadap regulasi dari sistem pendidikan yang harus disiapkan pemerintah dan legislatif bersama-sama masyarakat.
Disebutkan pula bahwa bagaiamana kecerdasan diluar dimensi kecerdasan intelektual atau akademik kini menjadi sangat penting didalam kemampuan seseorang dalam menjalani kehidupan, termasuk didalamnya pembangunan karakter dari bangsa ini, yang menurut Geil browning (pakar psikologi) disebut dengan Emergenetics (E), merupakan kombinasi antara kecerdasan intelektual (m) dan kuadratik kecerdasan behavior (b) seseorang yang secara matematik di tuliskan E=m.b2 (baca b kuadrat-ingat rumus einstein yang terkenal itu loh).
Lalu bagaimana menumbuh kembangkan kemampuan behavior ini? di paparkan juga oleh beliau, yaitu dengan cara :
- Kenali kekuatan dan Potensi diri sendiri (discover u r natural strength)
- Membangun team work (work better in team)
- Pahami apa yang dimiliki dan dipikirkan tentang pribadi dan wujudkan dalam perilaku (understand how u think and behave)
- lakukan pengambilan keputusan dengan baik sesuai dengan kemampuan respon yang dimiliki (make better decission)
Ah…Sebenarnya ada banyak yang kepingin saya tulis disini tentang diskusi ku tadi, tapi apa daya tangan tak sampai (pegel maksud e tanganku n mgamtuk bgt saiki wis jam 3 isuk..he..he..).
semoga menambah wawasan dan bermanfaat , kritik dan saran sangat kuharapkan